Balai Guru Penggerak Provinsi Aceh Selenggarakan Webinar Pembelajaran Berdiferensiasi dan Asesmen Diagnostik dalam rangka Implementasi Kurikulum Merdeka Jenjang PAUD

Aceh Besar – Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Aceh menyelenggerakan Webinar Series dengan judul Pembelajaran Berdiferensiasi dan dan Asesmen Diagnostik Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pembelajaran dalam Rangka Menerapkan IKM, Senin (01/08/2022). Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui media zoom meeting. Kegiatan dibuka oleh Kepala BGP Provinsi Aceh, Teti Wahyuni, S.Si., M.Pd.

Diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), narasumber pada kegiatan tersebut berjumlah tiga orang yaitu Co. Capten Aceh Utara, Qusthalani, Perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kab. Aceh Besar, Marzuki, dan Nana Puspita dari SMP N 1 Bandar Dua, Pidie Jaya. Masing-masing pemateri menyampaikan materinya dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dari para peserta.

Qusthalani menambahkan setiap satuan pendidikan dipersilakan untuk mengatur strategi efektif untuk mencapai tujuan capaian pembelajaran “dalam capaian pembelajaran itu ada beberapa kompetensi, nah kompetensi inilah yang dicapai.” imbuhnya.

Kemudian Marzuki menjelaskan bahwa Asesmen Diagnostik terbagi menjadi dua, pertama yang Non-Kognitif dan yang kedua adalah Kognitif. Yang Non-Kognitif yaitu mengetahui kesejahteraan psikologi dan sosial emosi siswa, mengetahui aktivitas selama belajar di rumah, mengetahui kondisi keluarga siswa, mengetahui latar belakang pergaulan siswa, dan mengetahui gaya belajar, karakter minat siswa. Sedangkan yang kognitif yaitu mengindentifikasi capaian kompetensi siswa, menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rata-rata siswa, dan memberikan kelas remedial atau pelajaran tambahan kepada siswa yang kompetensinya di bawah rata-rata.

Pada sesi ketiga, penyampaian materi oleh Nana Puspita dari SMP N 1 Bandar Dua, Pidie Jaya menyampaikan “Kesiapan Belajar adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas untuk mempertimbangkan tingkat kesiapan murid keluar dari zona nyaman mereka, tetapi bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ).” sebutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *